B8VIP_Situs web resmi: tv888.com Daftar dan dapatkan 880.000 rupiah, dan menangkan jackpot setiap hari
Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran telah menarik perhatian serius dari Indonesia dan Malaysia, dua negara mayoritas Muslim utama di Asia Tenggara. Meskipun kedua negara menyerukan penghormatan terhadap aturan internasional, tanggapan mereka sangat berbeda: Indonesia mendukung mediasi, sementara Malaysia mengecam keras AS dan Israel karena "menciptakan preseden berbahaya." Menyusul serangan militer AS-Israel terhadap Iran pada Sabtu lalu (28 Februari), Kementerian Luar Negeri Indonesia mengeluarkan pernyataan yang menyatakan "penyesalan mendalam" atas kegagalan negosiasi AS-Iran dan eskalasi aksi militer di Timur Tengah yang diakibatkannya. Meskipun tidak mengecam AS dan Israel dalam pernyataannya, Indonesia menegaskan kembali pentingnya menghormati kedaulatan nasional dan menyelesaikan perbedaan secara damai. Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyatakan kesediaannya untuk menjadi mediator dalam sebuah pernyataan. Ia menyatakan bahwa ia siap melakukan perjalanan ke Teheran untuk menjadi mediator jika semua pihak setuju. Kedutaan Besar Iran di Indonesia mengeluarkan pernyataan pada hari Minggu (1 Maret) yang menyambut baik langkah tersebut tetapi juga mendesak para pejabat Indonesia untuk mengambil sikap tegas, "mengutuk agresi dan tindakan kriminal Amerika Serikat dan Israel." Usulan Prabowo tidak mendapat respons positif di Indonesia. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia dan mantan duta besar untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, menyebut usulan tersebut sangat tidak praktis. Ia mempertanyakan apakah usulan tersebut telah dipertimbangkan dengan cermat dan menunjukkan kurangnya hubungan dekat dan saling percaya antara Jakarta dan Teheran. Dino menulis di media sosial pada hari Minggu bahwa Prabowo Subianto telah melakukan lebih dari 40 kunjungan kenegaraan ke 20 negara sejak menjabat, namun belum pernah menginjakkan kaki di Iran. Lebih lanjut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak pemerintah pada hari Minggu untuk menarik diri dari komisi perdamaian yang dibentuk oleh Presiden AS Trump. Sebaliknya, sikap Malaysia jauh lebih tegas. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengunggah pernyataan di media sosial pada Minggu malam, "mengutuk tanpa syarat" pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei.
Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran telah menarik perhatian serius dari Indonesia dan Malaysia, dua negara mayoritas Muslim utama di Asia Tenggara. Meskipun kedua negara menyerukan penghormatan terhadap aturan internasional, tanggapan mereka sangat berbeda: Indonesia mendukung mediasi, sementara Malaysia mengecam keras AS dan Israel karena "menciptakan preseden berbahaya." Menyusul serangan militer AS-Israel terhadap Iran pada Sabtu lalu (28 Februari), Kementerian Luar Negeri Indonesia mengeluarkan pernyataan yang menyatakan "penyesalan mendalam" atas kegagalan negosiasi AS-Iran dan eskalasi aksi militer di Timur Tengah yang diakibatkannya. Meskipun tidak mengecam AS dan Israel dalam pernyataannya, Indonesia menegaskan kembali pentingnya menghormati kedaulatan nasional dan menyelesaikan perbedaan secara damai. Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyatakan kesediaannya untuk menjadi mediator dalam sebuah pernyataan. Ia menyatakan bahwa ia siap melakukan perjalanan ke Teheran untuk menjadi mediator jika semua pihak setuju. Kedutaan Besar Iran di Indonesia mengeluarkan pernyataan pada hari Minggu (1 Maret) yang menyambut baik langkah tersebut tetapi juga mendesak para pejabat Indonesia untuk mengambil sikap tegas, "mengutuk agresi dan tindakan kriminal Amerika Serikat dan Israel." Usulan Prabowo tidak mendapat respons positif di Indonesia. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia dan mantan duta besar untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, menyebut usulan tersebut sangat tidak praktis. Ia mempertanyakan apakah usulan tersebut telah dipertimbangkan dengan cermat dan menunjukkan kurangnya hubungan dekat dan saling percaya antara Jakarta dan Teheran. Dino menulis di media sosial pada hari Minggu bahwa Prabowo Subianto telah melakukan lebih dari 40 kunjungan kenegaraan ke 20 negara sejak menjabat, namun belum pernah menginjakkan kaki di Iran. Lebih lanjut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak pemerintah pada hari Minggu untuk menarik diri dari komisi perdamaian yang dibentuk oleh Presiden AS Trump. Sebaliknya, sikap Malaysia jauh lebih tegas. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengunggah pernyataan di media sosial pada Minggu malam, "mengutuk tanpa syarat" pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei.
Pejabat Indonesia: Usulan Prabowo untuk menengahi perang Iran mendapat dukungan dari UEA dan negara-negara lain.